Total Tayangan Laman

Kamis, 01 Desember 2011

Mekanisme Pertahanan Tubuh terhadap Infeksi Virus

       A.    Kekebalan Terhadap Penyebab Penyakit Infeksi 

Tubuh manusia akan selalu terancam oleh paparan bakteri, virus, parasit, radiasi matahari, dan polusi. Stres emosional atau fisiologis dari kejadian ini adalah tantangan lain untuk mempertahankan tubuh yang sehat. Biasanya manusia dilindungi oleh sistem pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, terutama makrofag, dan cukup lengkap kebutuhan gizi untuk menjaga kesehatan. Kelebihan tantangan negatif, bagaimanapun, dapat menekan sistem pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, dan mengakibatkan berbagai penyakit fatal.
Penerapan kedokteran klinis saat ini adalah untuk mengobati penyakit saja. Infeksi bakteri dilawan dengan antibiotik, infeksi virus dengan antivirus dan infeksi parasit dengan antiparasit terbatas obat-obatan yang tersedia. Sistem pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, depresi disebabkan oleh stres emosional diobati dengan antidepresan atau obat penenang. Kekebalan depresi disebabkan oleh kekurangan gizi jarang diobati sama sekali, bahkan jika diakui, dan kemudian oleh saran untuk mengkonsumsi makanan yang lebih sehat.
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor.
Kemampuan sistem kekebalan untuk membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat yang diembannya guna merespon infeksi patogen – baik yang berkembang biak di dalam sel tubuh (intraselular) seperti misalnya virus, maupun yang berkembang biak di luar sel tubuh (ekstraselular) – sebelum berkembang menjadi penyakit. Meskipun demikian, sistem kekebalan mempunyai sisi yang kurang menguntungkan. Pada proses peradangan, penderita dapat merasa tidak nyaman oleh karena efek samping yang dapat ditimbulkan sifat toksik senyawa organik yang dikeluarkan sepanjang proses perlawanan berlangsung.
            Radang merupakan respon vaskuler terhadap jaringan cedera dan mati yang mengakibatkan meningkatnya vaskularisasi darah sehingga leukosit akan lebih banyak mencapai ruang intersititial. Radang ini dimulai dengan pelepasan senyawa amina vasoaktif oleh sel mastosit, terutama histamine dab SRS-A (Slow Reacting Substance- Anaphylactic). Senyawa amin vaso aktif ini meningkatkan permeabilitas pembuluh darah dan eksudasi serum factor pembekuan darah dan fagositosis. Fagosit menuju ke tempat radang oleh adanya mediator khemotaktik. Selain itu juga terjadi pembentukan anafilatoksin yang meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga eksudasi cairan dan sel-sel disekitar radang meningkat. Banyak jenis mikroorganisme yang secara efektif menimbulkan radang, misalnya Stafilokok dan Streptokok.
            Jadi rangsang merupakan usaha tubuh untuk melokalisir kerusakan yang ditimbulkan melalui cara menetralkan dan menyingkirkan agen-agen penyebab, menghancurkan jaringan nektorik dan mempersiapkan lingkungan untuk perbaikan dan kesembuhan. Sedangkan infeksi adalah kejadian masuknya organisme ke dalam tubuh haspes dan hidup di dalam jaringan. Dengan terjadinya infeksi akan terbentuk radang sebagai respons tubuh. Dengan demikian infeksi merupakan salah satu sebab terjadimya radang.
            Apabila radang gagal melokalisi infeksi, maka kuman dapat menyebar melalui saluran limfe untuk mencapai kelenjar limfe sehingga timbul limfedenitis. Di samping itu kelainan dan kerusakan jaringan dapat terjadi di tempat-tempat yang jauh dari tempat infeksi, karena bakteri toksogenik dapat menghasilkan eksotoksin. Eksotoksin akan ikut dalam peredaran darah dan mencapai jaringan yang peka terhadap eksotoksin tersebut. Dalam hal ini kuman tetap berada di tempat mereka masuk, memperbanyak diri dan terus menghasilkan eksotoksin.
http://carla.saleh.free.fr/images/viralRNA.pngINFEKSI  VIRUS


Strategi pertahanan virus
Virus adalah mikroorganisme yang mengadakan replikasi di dalam sel dan kadang-kadang memakai asam nukleat atau protein pejamu. Sifat virus yang sangat khusus adalah:
  1. Mengganggu sel khusus tanpa merusak. Virus yang tidak menyebabkan kerusakan sel disebut virus non sitopatik (non cytopathic virus). Bila terjadi kerusakan sel, maka hal ini akibat reaksi antigen antibodi. Virus ini dapat menjadi persisten dan akhirnya menjadi kronik, sebagai contoh adalah virus hepatitis B
  2. Virus merusak sel atau mengganggu perkembangan sel kemudian menghilang dari tubuh, dan virus seperti ini disebut virus sitopatik (cytopathic virus), sebagai contoh infeksi virus HIV, infeksi hepatitis virus lain, dan sebagainya. 
  3. Dapat menginfeksi jaringan tanpa menimbulkan respons inflamasi
  4. Dapat berkembang biak dalam sel pejamu tanpa merusak
Dalam melawan sistem imun, virus secara kontinu mengganti struktur permukaan antigennya melalui mekanisme antigenic drift dan antigenic shift, seperti yang dilakukan oleh jenis virus influenza. Permukaan virus influenza terdiri dari hemaglutinin, yang diperlukan untuk adesi ke sel saat infeksi, dan neuramidase, yang diperlukan untuk menghasilkan bentuk virus baru dari permukaan asam sialik dari sel yang terinfeksi. Hemaglutinin lebih penting dalam hal pembentukan imunitas pelindung. Perubahan minor dari antigen hemagglutinin terjadi melalui titik mutasi di genom virus (drift), namun perubahan mayor terjadi melalui perubahan seluruh material genetik (shift).

B.
    
Mekanisme Pertahanan Tubuh (Respons Imun) terhadap Infeksi Virus
1             Infeksi virus secara langsung merangsang produksi IFN oleh sel-sel terinfeksi; IFN berfungsi menghambat replikasi virus.
        Sel NK melisiskan berbagai jenis sel terinfeksi virus. Sel NK mampu melisiskan sel yang terinfeksi virus walaupun virus menghambat presentasi antigen dan ekspresi MHC I,  karena sel NK cenderung diaktivasi oleh sel sasaran yang MHC negatif.
Untuk membatasi penyebaran virus dan mencegah reinfeksi, sistem imun harus mampu menghambat masuknya virion ke dalam sel dan memusnahkan sel yang terinfeksi. Antibodi spesifik mempunyai peran penting pada awal terjadinya infeksi, dimana ia dapat menetralkan antigen virus dan melawan virus sitopatik yang dilepaskan oleh sel yang mengalami lisis. Peran antibodi dalam menetralkan virus terutama efektif untuk virus yang bebas atau virus dalam sirkulasi. Proses netralisasi virus dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan cara menghambat perlekatan virus pada reseptor yang terdapat pada permukaan sel, sehingga virus tidak dapat menembus membran sel, sehingga virus tidak dapat menembus membran sel; dengan demikian replikasi virus dapat dicegah. Antibodi dapat juga mengahancurkan virus dengan cara aktivasi komplemen melalui jalur klasik atau menyebabkan agregasi virus sehingga mudah difagositosis dan dihancurkan melalui proses yang sama seperti diuraikan diatas. Antibodi dapat mencegah penyebaran virus yang dikeluarkan dari sel yang telah hancur. Tetapi sering kali antibodi tidak cukup mampu untuk mengendalikan virus yang telah mengubah struktur antigennya dan yang nmelepaskan diri (budding of) melalui membran sel sebagai partikel yang infeksius, sehingga virus dapat menyebar ke dalam sel yang berdekatan secara langsung. Jenis virus yang mempunyai sifat seperti ini, diantaranya adalah virus oncorna (termasuk didalamnya virus leukemogenik), virus dengue, virus herpes, rubella dan lain-lain. Walaupun tidak cukup mampu menetralkan virus secara langsung, antibodi dapat berfungsi dalam reaksi ADCC
Disamping respons antibodi, respons imun selular merupakan respons yang paling penting, terutama pada infeksi virus yang non-sitopatik respons imun seluler melibatkan T-sitotoksik, sel NK, ADCC dan interaksi dengan MHC kelas I. Peran IFN sebagai anti virus cukup besar, khususnya IFN-α dan IFN-β. Dampak antivirus dari IFN terjadi melalui :
a)      Peningkatan ekspresi MHC kelas I
b)      Aktivasi sel NK dan makrofag
c)      Menghambat replikasi virus. Ada juga yang menyatakan bahwa IFN menghambat penetrasi virus ke dalam sel maupun budding virus dari sel yang terinfeksi.
Seperti halnya pada infeksi dengan mikroorganisme lain, sel T-sitotoksik selain bersifat protektif juga dapat merupakan penyebab keruskan jaringan, misalnya yang terlihat pada infeksi dengan virus LCMV (lympocyte choriomeningitis virus) yang menginduksi inflamasi pada selaput susunan saraf pusat.
            Pada infeksi virus makrofag juga dapat membunuh virus seperti halnya ia membunuh bakteri. Tetapi pada infeksi dengan virus tertentu, makrofag tidak membunuhnya bahkan sebaliknya virus memperoleh kesempatan untuk replikasi di dalamnya. Telah diketahui bahwa virus hanya dapat berkembang biak intraselular karena ia memerlukan DNA-pejamu untuk replikasi. Akibatnya ialah bahwa virus selanjutnya dapat merusak sel-sel organ tubuh yang lain terutamaapabila virus itu bersifat sitopatik. Apabila virus itu bersifat non sitopatik ia menyebabkan infeksi kronik dengan menyebar ke sel-sel lain.
            Pada infeksi sel secara langsung di tempat masuknya virus (port d’entre), misalnya di paru, virus tidak sempat beredar dalam sirkulasi dan tidak sempat menimbulkan respons primer, dan antibody yang dibentuk seringkali terlambat untuk mengatasi infeksi. Pada keadaan ini respons imun selular mempunyai peran lebih menonjol, karena sel T-sitotoksik mampu mendeteksi virus melalui reseptor terhadap antigen virus sekalipun struktur virus telah berubah. Sel T sitotoksik kurang spesifik dibandingkan antibody dan dapat melakukan reaksi silang dengan spectrum yang lebih luas. Namun ia tidak dapat menghancurkan sel sasaran yang menampilkan MHC kelas I yang berbeda. Beberapa jenis virus dapat menginfeksi sel-sel system imun sehingga mengganggu fungsinya dan mengakibatkan imunodepresi, misalnya virus influenza, polio dan HIV. Sebagian besar infeksi virus membatasi diri sendiri (self limiting) pada sebagian lagi menimbulkan gejala klinik atau subklinik. Penyembuhan dari infeksi virus umumnya diikuti imunitas jangka panjang.
            Untuk mencapai organ sasaran, virus menempuh 2 cara :
     1.      Virus memasuki tubuh pada suatu tempat, kemudian ikut peredaran darah mencapai organ sasaran. Contohnya virus polio. Virus polio memasuki tubuh melalui selaput lender usus, lalu masuk ke dalam peredaran darah mencapai sumsum tulang belakang dotak, di sana virus melakukan replikasi.
Infeksi virus melalui peredaran darah ini dapat diatasi dengan anti toksin dalam titer yang rendah. Dengan kata lain titer anti toksin yang rendah di dalam darah sudah cukup untuk mengikat toksis yang berada dalam perjalanan ke sumsum syaraf pusat, sehingga tidak lagi dapat berikatan dengan reseptor sel sasaran. Penyakit virus dengan pola penyebaran melalui peredaran darah mempunyai periode inkubasi yang panjang.
Contoh lain dari pola penyebaran yang sama dengan virus polio adalah virus penyebab penyakit morbili dan varicella.
     2.      Virus langsung mencapai organ sasaran, tidak melalui peredaran darah jadi tempat masuk virus merupakan organ sasaran. Contohnya virus influenza organ sasarannya adalah selaput lender saluran pernafasan yang sekaligus merupakan tempat masuknya virus.
Pada jenis infeksi ini, titer antibody yang tinggi di dalam serum relative tidak efektif terhadap virus penyebab  penyakit bila dibandingkan dengan virus penyebab penyakit yang penyebarannya melalui peredaran darah. Hal ini disebabkan karena selaput lendir saluran nafas tidak terlalu permiabel bagi Ig G dan Ig M.
Imunoglobulin yang terdapat dalam titer tinggi pada selaput lendir saluran nafas adalah Ig A, karena Ig A dihasilkan oleh sel plasma yang terdapat dalam lamina propria selaput lendir setempat. Ig A dalam secret hidung inilah yang menetralisir aktivitas virus pada penyakit influenza.
Kekebalan terhadap penyakit virus seringkali bertahan lama, malah ada yang seumur hidup. Contohnya penyakit morbili dan parotitis epidemika. Hal ini terjadi karena virus yang sudah berada di dalam jaringan terlindung terhadap antibody. Sewaktu-waktu ada virus yang keluar dari sel persembunyiannya yang segera dikenali oleh limfosit B pengingat. Sel limfosit kemudian akan bereaksi memperbanyak diri, menghasilkan sel-sel plasma dan memproduksi antibody. Semuanya terjadi dalam waktu singkat sehingga kekebalan dengan cepat ditingkatkan.
Pada beberapa penyakit virus antara lain influenza serangan penyakit dapat kembali terjadi dalam waktu relative singkat setelah kesembuhan. Hal ini bukan disebabkan rendahnya kekebalan, tapi karena virus influenza mengalami mutasi sehingga didapatkan strain baru yang tidak sesuai dengan antibody yang telah ada.
Pada penyakit-penyakit influenza dan pilek yang mempunyai masa inkubasi pendek yang dihubungkan dengan kenyataan bahwa organ sasaran akhir bagi virus itu adalah sama dengan jalan masuk sehingga tidak terdapat stadium antara yang terpengaruh pada perjalanan memasuki tubuh. Hanya ada sedikit sekali waktu bagi suatu reaksi antibody primer dan dalam segala kemungkinan pembentuk interferon yang cepat adalah cara yang paling tepat untuk mengatasi infeksi virus itu.pada penyelidikan terlihat bahwa setelah produksi interferon mulai menanjak, maka titer virus yang masih hidup dalam paru-paru tikus yang telah di infeksi influenza cepat turun. Titer antibody yang diukur dari serum, nampaknya sangat lambat untuk mencukupi nilai yang diperlukan bagi penyembuhan.
Walaupun begitu, beberapa penyelidik akhir-akhir ini telah melihat bahwa kadar antibody pada cairan local yang membasahi permukaan jaringan yang terinfeksi mungkin meningkat, misalnya pada selaput lendir hidung dan paru-paru, meskipun titer serum rendah dan ini merupakan antibody antivirus (terutama Ig A) oleh sel-sel yang telah menjadi kebal dan tersebar ditempat itu yang dapat membuktikan manfaatnya yang besar sebagai pencegahan bagi infeksi berikutnya. Celakanya, sampai begitu jauh yang menyangkut soal pilek, tampaknya infeksi berikutnya mungkin disebabkan oleh virus yang secara antigenic sama sehingga kekebalan umum terhadap pilek ini sukar dikendalikan.
Respons imun nonspesifik terhadap infeksi virus
           Secara jelas terlihat bahwa respons imun yang terjadi adalah timbulnya interferon dan sel natural killler (NK) dan antibodi yang spesifik terhadap virus tersebut. Pengenalan dan pemusnahan sel yang terinfeksi virus sebelum terjadi replikasi sangat bermanfaat bagi pejamu. Permukaan sel yang terinfeksi virus mengalami modifikasi, terutama dalam struktur karbohidrat, menyebabkan sel menjadi target sel NK. Sel NK mempunyai dua jenis reseptor permukaan. Reseptor pertama merupakan killer activating receptors, yang terikat pada karbohidrat dan struktur lainnya yang diekspresikan oleh semua sel. Reseptor lainnya adalah killer inhibitory receptors, yang mengenali molekul MHC kelas I dan mendominasi signal dari reseptor aktivasi. Oleh karena itu sensitivitas sel target tergantung pada ekspresi MHC kelas I. Sel yang sensitif atau terinfeksi mempunyai MHC kelas I yang rendah, namun sel yang tidak terinfeksi dengan molekul MHC kelas I yang normal akan terlindungi dari sel NK. Produksi IFN-α selama infeksi virus akan mengaktivasi sel NK dan meregulasi ekspresi MHC pada sel terdekat sehingga menjadi resisten terhadap infeksi virus. Sel NK juga dapat berperan dalam ADCC bila antibodi terhadap protein virus terikat pada sel yang terinfeksi.


Beberapa mekanisme utama respons nonspesifik terhadap virus, yaitu :
  1. Infeksi virus secara langsung yang akan merangsang produksi IFN oleh sel-sel terinfeksi; IFN berfungsi menghambat replikasi virus
  2. Sel NK mampu membunuh virus yang berada di dalam sel, walaupun virus menghambat presentasi antigen dan ekspresi MHC klas I. IFN tipe I akan meningkatkan kemampuan sel NK untuk memusnahkan virus yang berada di dalam sel. Selain itu, aktivasi komplemen dan fagositosis akan menghilangkan virus yang datang dari ekstraseluler dan sirkulasi.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/bookshelf/picrender.fcgi?book=mmed&part=A2711&blobname=ch50f1.jpg
Respons imun spesifik terhadap infeksi virus
Mekanisme respons imun spesifik ada dua jenis yaitu respons imunitas humoral dan selular. Respons imun spesifik ini mempunyai peran penting yaitu :
  1. Menetralkan antigen virus dengan berbagai cara antara lain menghambat perlekatan virus pada reseptor yang terdapat pada permukaan sel sehingga virus tidak dapat menembus membran sel, dan dengan cara mengaktifkan komplemen yang menyebabkan agregasi virus sehingga mudah difagositosis
  2. Melawan virus sitopatik yang dilepaskan dari sel yang lisis.
Molekul antibodi dapat menetralisasi virus melalui berbagai cara. Antibodi dapat menghambat kombinasi virus dengan reseptor pada sel, sehingga mencegah penetrasi dan multiplikasi intraseluler, seperti pada virus influenza. Antibodi juga dapat menghancurkan partikel virus bebas melalui aktivasi jalur klasik komplemen atau produksi agregasi , meningkatkan fagositosis dan kematian intraseluler.
            Kadar konsentrasi antibodi yang relatif rendah juga dapat bermanfaat khususnya pada infeksi virus yang mempunyai masa inkubasi lama, dengan melewati aliran darah terlebih dahulu sebelum sampai ke organ target, seperti virus poliomielitis yang masuk melalui saluran cerna, melalui aliran darah menuju ke sel otak. Di dalam darah, virus akan dinetralisasi oleh antibodi spesifik dengan kadar yang rendah, memberikan waktu tubuh untuk membentuk resposn imun sekunder sebelum virus mencapai organ target.
Infeksi virus lain, seperti influenza dan common cold, mempunyai masa inkubasi yang pendek, dan organ target virus sama dengan pintu masuk virus. Waktu yang dibutuhkan respons antibodi primer untuk mencapai puncaknya menjadi terbatas, sehingga diperlukan produksi cepat interferon untuk mengatasi infeksi virus tersebut. Antibodi berfungsi sebagai bantuan tambahan pada fase lambat dalam proses penyembuhan. Namun, kadar antibodi dapat meningkat pada cairan lokal yang terdapat di permukaan yang terinfeksi, seperti mukosa nasal dan paru. Pembentukan antibodi antiviral, khususnya IgA, secara lokal menjadi penting untuk pencegahan infeksi berikutnya. Namun hal ini menjadi tidak bermanfaat apabila terjadi perubahan antigen virus.
Virus menghindari antibodi dengan cara hidup intraseluler. Antibodi lokal atau sistemik dapat menghambat penyebaran virus sitolitik yang dilepaskan dari sel pejamu yang terbunuh, namun antibodi sendiri tidak dapat mengontrol virus yang melakukan budding dari permukaan sel sebagai partikel infeksius yang dapat menyebarkan virus ke sel terdekat tanpa terpapar oleh antibodi, oleh karena itu diperlukan imunitas seluler.
Respons imunitas seluler juga merupakan respons yang penting terutama pada infeksi virus nonsitopatik. Respons ini melibatkan sel T sitotoksik yang bersifat protektif, sel NK, ADCC dan interaksi dengan MHC kelas I sehingga menyebabkan kerusakan sel jaringan. Dalam respons infeksi virus pada jaringan akan timbul IFN (IFN-a dan IFN-b) yang akan membantu  terjadinya respons imun yang bawaan dan didapat. Peran antivirus dari IFN cukup besar terutama IFN-a dan IFN-b.
Kerja IFN sebagai antivirus adalah :
  1. Meningkatkan ekspresi  MHC kelas I
  2. Aktivasi sel NK dan makrofag
  3. Menghambat replikasi virus
  4. Menghambat penetrasi ke dalam sel atau budding virus dari sel yang terinfeksi.
Limfosit T dari pejamu yang telah tersensitisasi bersifat sitotoksik langsung pada sel yang teinfeksi virus melalui pengenalan antigen pada permukaan sel target oleh reseptor αβ spesifik di limfosit. Semakin cepat sel T sitotoksik menyerang virus, maka replikasi dan penyebaran virus akan cepat dihambat.
Sel yang terinfeksi mengekspresikan peptida antigen virus pada permukaannya yang terkait dengan MHC kelas I sesaat setelah virus masuk. Pemusnahan cepat sel yang terinfeksi oleh sel T sitotoksik αβ mencegah multiplikasi virus. Sel T sitotoksik γδ menyerang virus (native viral coat protein) langsung pada sel target.
Sel T yang terstimulasi oleh antigen virus akan melepaskan sitokin seperti IFN-γ dan kemokin makrofag atau monosit. Sitokin ini akan menarik fagosit mononuklear dan teraktivasi untuk mengeluarkan TNF. Sitokin TNF bersama IFN-γ akan menyebabkan sel menjadi non-permissive, sehingga tidak terjadi replikasi virus yang masuk melalui transfer intraseluler. Oleh karena itu, lokasi infeksi dikelilingi oleh lingkaran sel yang resisten. Seperti halnya IFN-α, IFN-γ meningkatkan sitotoksisitas sel NK untuk sel yang terinfeksi. 
Antibodi dapat menghambat sel T sitotoksik γδ melalui reaksi dengan antigen permukaan pada budding virus yang baru mulai, sehingga dapat terjadi proses ADCC. Antibodi juga berguna dalam mencegah reinfeksi.
Beberapa virus dapat menginfeksi sel-sel sistem imun sehingga mengganggu fungsinya dan mengakibatkan imunodepresi, misalnya virus polio, influenza dan HIV atau penyakit AIDS. Sebagian besar virus membatasi diri (self-limiting), namun sebagian lain menyebabkan gejala klinik atau subklinik. Penyembuhan infeksi virus pada umumnya diikuti imunitas jangka panjang. Pengenalan sel target oleh sel T sitotoksik spesifik virus dapat melisis sel target yang mengekspresikan peptida antigen yang homolog dengan region berbeda dari protein virus yang sama, dari protein berbeda dari virus yang sama atau bahkan dari virus yang berbeda. Aktivasi oleh virus kedua tersebut dapat menimbulkan memori dan imunitas spontan dari virus lain setelah infeksi virus inisial dengan jenis silang. Demam dengue dan demam berdarah dengue merupakan infeksi virus akut yang disebabkan oleh empat jenis virus dengue. Imunitas yang terjadi cukup lama apabila terkena infeksi virus dengan serotipe yang sama, tetapi bila dengan serotipe yang berbeda maka imunitas yang terjadi akan berbeda. Gangguan pada organ hati pada demam berdarah dengue telah dibuktikan dengan ditemukannya RNA virus dengue dalam jaringan sel hati dan organ limfoid. Virus dengue ternyata menyerang sel kupffer dan hepatosit sehingga terjadi gangguan di hati 

      C.    Pencegahan Memakai Antibody Serum
            Molekul antibody dapat menetralkan virus dalam berbagai pengertian. Mungkin berupa hambatan penggabungan dengan penangkan reseptor pada sel secara stereokemik, dengan demikian mencegah penetrasi dan multiplikasi dalam sel, penutupan neurominidase virus influenza oleh antibody merupakan contoh bagus. Mungkin berupa pengahancuran partikel virus secara langsung melalui aktivasi komplemen cara klasik atau menyebabkan penggumpalan virus, meningkatkan fagositosis dan pembunuhan intraselular dengan cara seperti yang telah diuraikan.
            Kadar antibody sirkulasi yang relative rendah dapat bermanfaat dan diantaranya yang terkenal adalah kemampuan member perlindungan antibody poliomyelitis, dan gamma globulin yang diberikan sebagai profilaktis untuk orang yang bergaul dengan penderita campak. Perlindungan yang paling jelas terlihat pada penyakit-penyakit virus  yang mempunyai masa inkubasi panjang, dimana virus harus melalui peredaran darah lebih dahulu sebelum mencapai jaringan yang dituju. Sebagai contoh, pada poliomyelitis virus memasuki tubuh melalui virus memasuki tubuh melalui saluran pencernaan dan akhirnya melewati peredaran darah untuk mencapai sel-sel otak yang akan diinfeksi kemudian. Di dalam darah virus dinetralkan oleh antibody spesifik dengan kadar yang sangat rendah sehingga sebelum virus mencapai otak ada waktu yang cukup panjang untuk reaksi kekebalan sekunder pada tuan rumah yang sebelumnya sudah divaksinasi.

      D.    Kekebalan Perantaraan Sel
            Antibodi-antibodi local atau sistemik dapat menghambat penyebaran virus-virus sitolitik tetapi hanya virus itu sendiri, biasanya mereka kurang dapat mengendalikan virus-virus tersebut yang telah mengubah antigen-antigen selaput sel dan menonjol dari permukaan sebagai partikel infeksius. Pentingnya peranan kekebalan perantaraan sel pada penyembuhan infeksi oleh virus-virus tersebut disokong oleh kegagalan untuk menanggulangi virus-virus itu pada anak-anak yang menderita imunodefisiensi sel T primer, sedangkan penderita-penderita defisiensi Ig tetap mempunyai kekebalan perantaraan sel utuh tidak mendapat kesukaran dalam hal ini.
            Limfosit-T seorang yang telah kebal, secara langsung bersifat sitotoksik terhadap sel-sel yang terinfeksi virus-virus golongan itu, antigen permukaan baru pada sel-sel target dapat dikenal karena adanya reseptor spesifik pada limfosit-limfosit aggressor. Dengan cara yang sangat menyolok, limfosit-limfosit ini tidak sitotoksik untuk banyak antigen-antigen histokompatibilitas yang berbeda. Oleh karenanya  sel-T yang peka harus mengenal :
       a.       Antigen histocompatibility yang berubah karena virus
       b.      Suatu gabungan antigen histocompatibility dengan antigen yang berasal dari virus atau,
       c.       Kedua-duanya, baik antigen yang berasal dari virus ataupun antigen histocompatibility sendiri.
Serangan langsung pada sel ini akan dapat membatasi infeksi bila perubahan-perubahan antigen permukaan sudah tampak sebelum terjadi replikasi virus sepenuhnya, sebaliknya jasad renik tersebut akan menyebar melalui 2 cara. Pertama, mengenai partikel-partikel virus bebas yang terlepas dari permukaan secara pembentukan tunas, dapat dengan mudah dicek oleh antibody humoral. Kedua, yang tergantung pada cara perjalanan virus dari satu sel ke sel lain melewati jembata antar sel, ini tidak dapat dipengaruhi oleh antibody tetapi harus ditanggulangi oleh kekebalan perantaraan sel. Makrofaga, tertarik bergerak ketempat itu oleh factor-faktor kemotaktik yang terlepas pada reaksi antarsel-T dengan antigen virus, tampak kecewa oleh pembentukan jembatan-jembatan antarsel, satu keahlian yang mungkin ditingkatkan oleh limfokin-limfokin sel-T lain seperti factor penggiat makrofaga. Selanjutnya interferon yang dihasilkan baik oleh sel-T sendiri ataupun  oleh makrofaga yang terangsang limfokin akan mengubah sel-sel yang berdekatan tidak mengizinkan untuk replikasi virus yang diperoleh melalui jalan antarsel. Pembentukan interferon kebal sebagai reaksi terhadap unsure-unsur virus tanpa asam nukleat member suatu mekanisme balik yang dapat dinilai bila berurusan dengan virus yang pada hakekatnya kurang mampu merangsang pembentukan interferon.



DAFTAR PUSTAKA

Boedina Kresno, Siti. Diagnosis dan Prosedur Laboratorium Edisi Keempat. 2001. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
Pusat pendidikan tenaga kesehatan Departemen Kesehatan RI. IMMUNOLOGI. 1989. Bakti Husada : Jakarta
Roitt, Ivan M. Pokok-Pokok Ilmu Kekebalan. 1985. PT Gramedia : Jakarta
http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2010/10/17/mekanisme-pertahanan-tubuh-terhadap-virus/ - diakses pada tanggal 6 Desember 2010